The Accuracy of Plasma EBV-DNA Quantification Using LMP2 as Primer to Detect Distance Metastasis After Radiation of Nasopharyngeal Cancer in Dharmais National Cancer Center

Dewi Soeis Marzaini, Demak L. Tobing, Siti Boedina Kresno

Research output: Contribution to journalArticlepeer-review

Abstract

Kanker nasofaring (NPC) biasa ditemukan di Indonesia dan berkaitan dengan penyakit tingkat lanjut (advanced disease). Keberadaan virus Epstein-Bar deoxyribonucleic acid (EBV-DNA) sudah lama ditawarkan untuk deteksi awal terhadap kegagalan jarak (distant failure) setelah pemberian radiasi (radiation theraphy). Selaput laten protein-2 (LMP-2) sangat potensial untuk diterapkan di Indonesia, karena efektif dalam menekan biaya. Namun, hal ini belum pernah di pelajari sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetes penghitungan akurasi plasma EBV-DNA menggunakan LMP2 sebagai cara awal untuk mendeteksi metastasis setelah pemberian radiasi pada pasien NPC.

Contoh plasma diambil dari pasien penderita kanker nasofaring paling tidak enam bulan setelah pemberian radiasi. DNA diekstrak dan dianalisis dari reaksi rantai polymerase berdasarkan hitungan waktu (real-time polymerase chain reaction RT-PCR) (Light Cycler, Roche Diagnostics) menggunakan spesifikasi dasar LMP-2. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan standar kuantitatif RT-PCR antara EBNA-1 dan segmen DNA dalam area BamHi-W dari genome EBV. Perbedaan rata-rata (mean) dari level EBV-DNA kemudian dibandingkan menggunakan tes analisis varian (ANOVA). Perhitungan sensitivitas dan spesifikasi dihitung berdasarkan kurva ROC (receiver-operating characteristics).
Kajian ini menggunakan dua puluh tiga kasus NPC yang non-metastatik, di mana jumlah pasien laki-laki 17 orang (73,9%) dan wanita 6 orang (26,1%). Median dari umur pasien adalah 48 tahun (21-67 tahun). Kebanyakan kasus sudah mencapai stadium III (56,5%), diikuti stadium IVA-B (26,1%). Semua pasien menerima radiasi sebanyak 6000-7000 cGy. Sepuluh pasien (43,5%) telah mendapatkan metastasis (distant metastasis) paling tidak enam bulan setelah terapi radiasi. Tidak ada tanda-tanda kambuh pada lokasi awal (primary site). Tidak ada perbedaan mean pada tingkat EBV-DNA, yaitu antara penggunaan EBNA-1 secara dasar antara pasien dengan metastasis dan pasien tanpa metastasis (5135 copies/mL vs. 7827 copies/mL; p=0,245). Ada perbedaan mencolok pada mean EBV-DNA antara pasien dengan metastasis dan pasien tanpa metastasis saat menggunakan LMP2 sebagai dasar dan menggunakan BamHI-W sebagai dasar. BamHI-W primer memberikan tingkat sensitivitas 100% dan spesifisitas 100% pada tingkat EBV-DNA 1080 copies/mL dengan AUC 1,0. Perhitungan dengan LMP2 primer memberikan tingkat sensitivitas 89% dan spesifisitas 100% pada pemberian 17 copies/mL dengan AUC 0,944. Kesimpulannya, deteksi EBV-DNA menggunakan LMP2 primer berguna bagi deteksi awal metastatik setelah pemberian radiasi bagi pasien NPC yang tidak memiliki metastasis pada saat proses diagnosis. Primer ini memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas hampir seakurat BamHi-W primer.
Original languageEnglish
JournalIndonesian Journal of Cancer
Publication statusPublished - 2009

Fingerprint

Dive into the research topics of 'The Accuracy of Plasma EBV-DNA Quantification Using LMP2 as Primer to Detect Distance Metastasis After Radiation of Nasopharyngeal Cancer in Dharmais National Cancer Center'. Together they form a unique fingerprint.

Cite this