Abstract
Melasma adalah kelainan kulit pigmentasi didapat yang bersifat kronis, cenderung rekuren,
serta sulit diobati. Secara klinis ditandai dengan makula coklat muda hingga coklat tua pada
area kulit yang terpajan matahari. Kelainan kulit ini lebih sering pada wanita khususnya usia
reproduksi, pada individu dengan warna kulit gelap, dan individu yang tinggal di daerah dengan
pajanan matahari tinggi. Patogenesis melasma hingga saat ini masih belum jelas, namun pengaruh
faktor genetik, hormonal, dan radiasi ultraviolet (UV) diduga berperan penting. Berbagai penelitian
terbaru menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor lain yang turut berperan dalam timbulnya
melasma. Faktor tersebut antara lain: inflamasi, sel punca, neural, dan vaskular. Tampaknya
kombinasi berbagai faktor tersebut memegang peranan dalam etiopatogenesis melasma. Hal
tersebut menjadi tantangan bagi para peneliti untuk dapat lebih memahami penyakit ini.
Pemahaman konseptual mengenai etiopatogenesis melasma dan kaitannya dengan aplikasi klinis
diharapkan dapat membantu klinisi dalam menangani melasma, baik dalam hal pencegahan,
penatalaksanaan, maupun pencegahan rekurensi.(MDVI 2014; 41/3:133 - 138
serta sulit diobati. Secara klinis ditandai dengan makula coklat muda hingga coklat tua pada
area kulit yang terpajan matahari. Kelainan kulit ini lebih sering pada wanita khususnya usia
reproduksi, pada individu dengan warna kulit gelap, dan individu yang tinggal di daerah dengan
pajanan matahari tinggi. Patogenesis melasma hingga saat ini masih belum jelas, namun pengaruh
faktor genetik, hormonal, dan radiasi ultraviolet (UV) diduga berperan penting. Berbagai penelitian
terbaru menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor lain yang turut berperan dalam timbulnya
melasma. Faktor tersebut antara lain: inflamasi, sel punca, neural, dan vaskular. Tampaknya
kombinasi berbagai faktor tersebut memegang peranan dalam etiopatogenesis melasma. Hal
tersebut menjadi tantangan bagi para peneliti untuk dapat lebih memahami penyakit ini.
Pemahaman konseptual mengenai etiopatogenesis melasma dan kaitannya dengan aplikasi klinis
diharapkan dapat membantu klinisi dalam menangani melasma, baik dalam hal pencegahan,
penatalaksanaan, maupun pencegahan rekurensi.(MDVI 2014; 41/3:133 - 138
Original language | English |
---|---|
Pages (from-to) | 133-138 |
Number of pages | 5 |
Journal | Media Dermato Venereologica Indonesiana |
Volume | 41 |
Issue number | 3 |
Publication status | Published - 2014 |