Pembangunan Kawasan Industri Pulo Gadung: Upaya Menarik Penanaman Modal di Jakarta 1969-1989

Muhammad Hendri Septiawan, Bondan Kanumoyoso

Research output: Contribution to conferencePaperpeer-review

Abstract

Artikel ini menjelaskan upaya yang dilakukan Pemerintah Jakarta dalam menarik modal industri dan jasa pada akhir dekade 1960-1980an. Upaya yang dilakukan untuk mensukseskan rencana tersebut antara lain dengan melakukan pelebaran jalan, membangun infrastruktur, dan menyediakan sarana dan prasarana. Upaya tesebut tidak selalu mulus karena terdapat beberapa hambatan, seperti sulitnya mendapatkan lokasi usaha yang cocok serta buruknya infrastruktur pada masa itu. Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah kota Jakarta membangun konsep yang baru pada masa itu, yaitu sebuah kawasan industri di daerah Pulogadung yang dilengkapi dengan infrastruktur penunjang kegiatan industri. Dalam kawasan industri, masalah perizinan serta pembebasan tanah akan diurus oleh pengelola kawasan industri. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik Sumber, Interpretasi data, historiogfi atau penulisan sejarah. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini berupa sumber arsip, laporan pemerintah, koran, serta buku-buku sebagai sumber pendukungnya. Artikel ini berkesimpulan keberadaan kawasan industri Pulogadung ternyata membawa dampak yang positif bagi masyarakat karena dapat menyediakan lapangan kerja serta menumbuhkan perekonomian di sekitarnya. Dengan adanya kawasan Industri ternyata dapat mempermudah perizinan yang berdampak masuknya penanaman modal industi di Jakarta.
Original languageIndonesian
Publication statusPublished - 2017
EventInternational Young Scholars Symposium of Humanities and Arts 2017 - ID, Depok, Indonesia
Duration: 1 Jan 2017 → …
http://elsevier.com/theconference

Conference

ConferenceInternational Young Scholars Symposium of Humanities and Arts 2017
CountryIndonesia
CityDepok
Period1/01/17 → …
Internet address

Keywords

  • Sejarah Ekonomi, Kawasan Industri Pulogadung, Penanaman Modal, Infrastruktur, Jakarta

Cite this