Manajemen Retensio Urin Pasca Persalinan Pervaginam

Suskhan

Research output: Contribution to journalArticlepeer-review

Abstract

etensio urin pascapersalinan (RUPP) adalah ketidakmampuan berkemih spontan atau dapat berkemih spontan 6 jam setelah persalinan dengan residu urin >200 mL. RUPP menimbulkan peregangan kandung kemih berlebihan sehingga mengganggu persarafan dan atonia otot detrusor. Faktor risiko RUPP adalah primipara, persalinan dengan alat, persalinan kala II lama, dan ruptur perineum luas. Gejala klinis berupa buang air kecil (BAK) sedikit atau tidak dapat BAK. Manajemen RUPP dengan residu urin 200-500 mL dilakukan kateterisasi intermiten tiap 6 jam sampai residu urin <200 mL. Jika residu urin 500-1.000 mL dilakukan dauer kateter 1x24 jam dan 6 jam kemudian pasien diminta berkemih spontan, 5 menit kemudian diukur residu urin. Jika residu urin 1.000-2.000 mL, dipasang dauer kateter selama 2x24 jam dan buka tutup kateter/4-6 jam selama 24 jam. Jika residu urin >2.000 mL, dauer kateter 3x24 jam dan bladder training selama 24 jam. Enam jam kemudian diukur volume residu urin dan bila residu urin <200 mL maka volume residu urin dikatakan normal. Pascapersalinan, tatalaksana dilakukan secara simultan dengan pemasangan kateter diikuti pemberian prostaglandin, antibiotik, dan edukasi minum air 2-3 liter perhari. Perlu pemeriksaan klinis yang baik pada pengawasan lama kala II, pengosongan kandung kemih dan tatalaksana robekan jalan lahir.
Original languageIndonesian
JournaleJournal Kedokteran Indonesia
Publication statusPublished - 2020

Cite this