TY - JOUR
T1 - Hubungan Kadar Antibodi Reseptor Asetilkolin dengan Derajat Keparahan Penyakit Miastenia Gravis di RS Cipto Mangunkusumo
AU - Hakim, Manfaluthy
AU - Tiara, Fika
AU - Safri, Ahmad Yanuar
AU - Wiratman, Winnugroho
AU - Indrawati, Luh Ari
AU - Budikayanti, Astri
AU - Octaviana, Fitri
PY - 2020/6/1
Y1 - 2020/6/1
N2 - Pendahuluan: Antibodi reseptor asetilkolin (anti-AChR) merupakan antibodi utama dalam patogenesis penyakit miastenia gravis (MG). Pemeriksaan antibodi ini merupakan salah satu pemeriksaan penting dalam menegakkan diagnosa. Gambaran klinis MG dapat terbagi menjadi MG okular, MG generalisata dan MG bulbar. Tiap individu dapat memiliki derajat keparahan yang berbeda yang dinilai berdasarkan MG composite score (MG-cs). Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan kadar anti-AChR dengan derajat keparahan penyakit MG berdasarkan MG-cs di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang melibatkan pasien MG di RSCM pada bulan Januari 2017- November 2017. Kriteria inklusi subjek ialah pasien yang telah didiagnosa MG berusia 18-75 tahun. Pemeriksaan kadar anti-AChR dengan metode ELISA. Penilaian MG-cs dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel darah. Hasil: Didapatkan 72 subjek yang sesuai kriteria inklusi. Rerata usia subjek adalah 43 tahun (SD 12,56) dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak (2,5:1). Gejala okular merupakan gejala terbanyak saat awitan (79,2%) dan early onset MG lebih banyak ditemukan (77,8%). Sebanyak 59,7% subjek memiliki seropositif anti-AChR. Tidak ada perbedaan bermakna seropositifitas anti-AChR pada kelompok berdasarkan jenis kelamin, usia awitan, tipe MG, dan pemberian terapi imunosupresan. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kadar anti-AChR dengan MG-cs (p=0,727). Diskusi: Kadar anti-AChR tidak berhubungan dengan derajat keparahan penyakit MG.
AB - Pendahuluan: Antibodi reseptor asetilkolin (anti-AChR) merupakan antibodi utama dalam patogenesis penyakit miastenia gravis (MG). Pemeriksaan antibodi ini merupakan salah satu pemeriksaan penting dalam menegakkan diagnosa. Gambaran klinis MG dapat terbagi menjadi MG okular, MG generalisata dan MG bulbar. Tiap individu dapat memiliki derajat keparahan yang berbeda yang dinilai berdasarkan MG composite score (MG-cs). Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan kadar anti-AChR dengan derajat keparahan penyakit MG berdasarkan MG-cs di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang melibatkan pasien MG di RSCM pada bulan Januari 2017- November 2017. Kriteria inklusi subjek ialah pasien yang telah didiagnosa MG berusia 18-75 tahun. Pemeriksaan kadar anti-AChR dengan metode ELISA. Penilaian MG-cs dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel darah. Hasil: Didapatkan 72 subjek yang sesuai kriteria inklusi. Rerata usia subjek adalah 43 tahun (SD 12,56) dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak (2,5:1). Gejala okular merupakan gejala terbanyak saat awitan (79,2%) dan early onset MG lebih banyak ditemukan (77,8%). Sebanyak 59,7% subjek memiliki seropositif anti-AChR. Tidak ada perbedaan bermakna seropositifitas anti-AChR pada kelompok berdasarkan jenis kelamin, usia awitan, tipe MG, dan pemberian terapi imunosupresan. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kadar anti-AChR dengan MG-cs (p=0,727). Diskusi: Kadar anti-AChR tidak berhubungan dengan derajat keparahan penyakit MG.
KW - Antibodi reseptor asetilkolin
KW - derajat keparahan MG
KW - MG-cs
UR - https://ejournal.neurona.web.id/index.php/neurona/article/view/164
U2 - 10.52386/neurona.v37i3.164
DO - 10.52386/neurona.v37i3.164
M3 - Article
SN - 2502-3748
VL - 37
JO - Neurona
JF - Neurona
IS - 3
ER -