Fenomena Negara Islam di Iraq dan Suriah (NIIS): Telaah Hubungan Internasional

Research output: Contribution to journalArticle

Abstract

Artikel ini membahas fenomena gerakan NIIS di Iraq dan Suriah yang ditelaah dari bidang studi Hubungan Internasional. Fenomena NIIS diawali oleh Al Baghdadi yang mendeklarasikan berdirinya Negara Islam pada 9 April 2013 yang meliputi wilayah Iraq dan Suriah. Hal ini tidak lazim dalam politik internasional karena klaim tersebut meliputi Iraq dan Suriah yang merupakan negara berdaulat. Semula gerakan NIIS berhasil mendapatkan dukungan luas dari negaranegara Arab di Teluk dan negara-negara Islam umumnya. Dengan modal ekonomi yang besar, NIIS dapat dipandang sebagai 'kelompok teroris berbaju Islam terkaya' saat itu. Namun alih-alih ingin menerapkan syariah Islam dengan cara yang keras, kaku, brutal dan penuh teror akhirnya gerakan NIIS malah menjadi menurun citranya di kalangan negara-negara pendukungnya. Kompleksitas fenomena NIIS ini dicoba ditelaah dari tiga perspektif Hubungan Internasional: realisme, liberalisme dan konstruktivisme. Tampaknya gerakan NIIS yang beraliran Sunni masih akan tetap eksis, namun nampaknya ada kecenderungan bahwa kekuatan perjuangan mereka akan semakin tergerus seiring makin menurunnya dukungan dunia khususnya negara-negara Islam dan menguatnya kelompok penentang NIIS terutama dari pihak Suriah dan Iraq yang sama-sama menganut Syiah dan AS beserta sekutunya.
Original languageIndonesian
Pages (from-to)19-42
JournalJurnal Ilmu Politik
Volume22
Issue number1
Publication statusPublished - 1 Dec 2017

Keywords

  • NIIS, Negara Islam, konflik, Syiah, Sunni, Iraq, Suriah, Al Baghdadi, terorisme, realisme, liberalisme, konstruktivisme.

Cite this