Abstract
Pasien dengan penyakit human immunodeficiency virus (HIV) stadium lanjut memiliki risiko mortalitas yang tinggi, dengan salah satu penyebab utama mortalitas ialah tuberkulosis (TB). Terapi antituberkulosis empirik dapat dipertimbangkan sebagai strategi untuk mengurangi mortalitas namun belum memiliki bukti yang kuat. Laporan ini disusun untuk meninjau efektivitas terapi antituberkulosis empirik pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut dibandingkan terapi profilaksis isoniazid dan dinilai dengan luaran mortalitas. Pasien laki-laki berusia 46 tahun dengan penyakit HIV stadium lanjut yang rutin mengonsumsi terapi antiretrovirus (ARV) dan sirosis hati dirawat di rumah sakit karena sulit tidur dan sulit berjalan. Dalam perawatan pasien mengalami kejang diikuti penurunan kesadaran yang dicurigai akibat meningitis TB. Hasil laboratorium terbaru jumlah CD4 132 sel/mm3 dan pemeriksaan TB negatif. Pasien diberikan terapi antituberkulosis empirik namun kemudian meninggal dunia dalam perawatan. Pencarian literatur secara sistematis dilakukan di PubMed, ScienceDirect, Scopus, Cochrane, dan EMBASE dengan kata kunci sesuai pertanyaan klinis dan menghasilkan 69 studi. Pemilihan studi dilakukan sesuai kriteria eligibilitas yang ditentukan, sehingga didapatkan dua studi terpilih dengan desain studi uji klinis acak terbuka. Telaah kritis terhadap studi terpilih menggunakan panduan dari Oxford Centre for Evidence- Based Medicine Critical Appraisal Worksheet. Kedua studi terpilih memiliki validitas yang cukup baik. Pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut didapatkan mortalitas minggu ke-24 sebesar 5,2% (IK95% 3,5 – 7,8%) pada kelompok terapi antituberkulosis empirik dan 5,2% (IK95% 3,4 – 7,8%) pada kelompok terapi profilaksis isoniazid, dengan perbedaan risiko absolut -0,06% (IK95% −3,05 – 2,94%; p=0,97). Sementara itu, mortalitas pada minggu ke-96 sebesar 10,1% (IK95% 7,5 -13,6%) pada kelompok terapi antituberkulosis empirik dibandingkan dengan 10,5% (IK95% 7,9 – 13,9%) pada kelompok terapi profilaksis isoniazid, dengan perbedaan risiko absolut 0,4% (IK95% −3,8 – 4,6%; p=0,86). Berdasarkan telaah kritis terhadap kedua studi dapat disimpulkan terapi antituberkulosis empirik tidak terbukti efektivitasnya dalam menurunkan mortalitas secara signifikan dibandingkan terapi profilaksis isoniazid pada pasien dengan penyakit HIV stadium lanjut.
| Translated title of the contribution | The Efficacy of Empiric Antituberculosis Therapy in Patient with Advanced HIV Disease: An Evidence-Based Case Report |
|---|---|
| Original language | Indonesian |
| Journal | Jurnal Penyakit Dalam Indonesia |
| Volume | 11 |
| Issue number | 1 |
| DOIs | |
| Publication status | Published - 31 Mar 2024 |
UN SDGs
This output contributes to the following UN Sustainable Development Goals (SDGs)
-
SDG 3 Good Health and Well-being
Keywords
- antituberkulosis empirik
- penyakit HIV stadium lanjut
Fingerprint
Dive into the research topics of 'The Efficacy of Empiric Antituberculosis Therapy in Patient with Advanced HIV Disease: An Evidence-Based Case Report'. Together they form a unique fingerprint.Cite this
- APA
- Author
- BIBTEX
- Harvard
- Standard
- RIS
- Vancouver