Dongeng Cocok untuk Anak?: Analisis Struktur Sintaksis dan Keterbacaan Dongeng Aschenputtel

Research output: Contribution to conferencePaperpeer-review

Abstract

Dongeng adalah cerita dalam dunia yang penuh imaji yang sering kali d itujukan untuk anak dan digemari oleh anak. Agar cerita dan pesan yang terkandung dalam dongeng dapat diterima oleh anak -anak, dongeng harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, salah satunya melalui struktur sintaksis kalimat yang cukup sederhana dan keterbacaan yang baik dan cocok untuk anak. Data dalam penelitian ini diambil dari salah satu dongeng berbahasa Jerman dari kumpulan dongeng Grimm bersaudara, yaitu Aschenputtel (Upik Abu). Masalah penelitian yang diangkat dalam penelitian ini adalah struktur sintaksis kalimat apakah yang digunakan dalam dongeng Aschenputtel berbahasa Jerman dari kumpulan dongeng Grimm bersaudara itu, bagaimana keterbacaan wacana dongeng tersebut, dan apakah struktur sintaksis dan keterbacaan wacana dongeng itu sesuai untuk anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat struktur sintaksis dan keterbacaan dongeng Aschenputtel dari kumpulan dongeng Grimm bersaudara yang digunakan dan membandingkannya dengan struktur sintaksis dan keterbacaan yang dapat diterima oleh anak -anak pada umumnya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian sintaksis dan analisis wacana untuk mengungkap apakah dongeng Grimm bersaudara itu cocok untuk dibaca dan dapat dipahami oleh anak -anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sintaksis yang digunakan dalam dongeng Aschenputtel didominasi oleh kalimat dengan struktur sintaksis yang kompleks dengan banyak kalimat majemuk bertingkat. Menariknya, penelitian ini dapat memperlihatkan bahwa dongeng Asch enputtel dari kumpulan dongeng Grimm bersaudara menggunakan struktur kalimat yang luar biasa kompleks dan panjang, namun memiliki nilai keterbacaan yang masih cukup ramah bagi anak -anak di usia mulai mahir membaca. Hasil penghitungan keterbacaan wacana dongeng itu menunjukkan bahwa dongeng Aschenputtel memiliki hasil keterbacaan (dari penghitungan formula keterbacaan Flesch)79,48 dengan valuation “agak mudah�. Artinya, dongeng itu cocok diperuntukkan mulai untuk anak di tahap awal sekolah dan sudah mahir membaca dan yang sudah dapat memahami kalimat dengan struktur sintaksis yang kompleks dengan nilai keterbacaan cukup mudah. Anak -anak dengan kemampuan sintaksis dan angka keterbacaan itu adalah anak -anak di rentang usia 8 hingga 12 tahun. Kalimat-kalimat kompleks yang tersusun dengan keterbacaan yang cukup mudah dari dongeng Aschenputtel ini membuat anak -anak dapat menyelami dunia khayal Upik Abu yang penuh dengan warna -warni emosi. Bahasa khasnya yang dapat menyihir anak -anak untuk memasuki dunia khayalnya, itulah bahasa dongeng.
Original languageIndonesian
Publication statusPublished - 2017
EventKonferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya 15 - ID, Jakarta, Indonesia
Duration: 1 Jan 2017 → …

Conference

ConferenceKonferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya 15
CountryIndonesia
CityJakarta
Period1/01/17 → …

Keywords

  • Dongeng Anak, Struktur Sintaksis, Keterbacaan Wacana, Grimm Bersaudara, Aschenputtel (Upik Abu)

Cite this