Bureaucratic Reforms in Four Southeast Asia Countries

Research output: Contribution to journalArticlepeer-review

Abstract

Tata pemerintahan yang baik merupakan masalah penting selama dua dekade terakhir. Good governance telah menjadi paradigma baru menggantikan paradigma lama dalam administrasi publik yang dikembangkan oleh Max Weber. Model konvensional seperti administrasi umum semua tentang pemerintah telah ditinggalkan dan diganti dengan yang baru, yang melibatkan kerjasama dari tiga unsur: pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor usaha. Tata pemerintahan yang baik terjadi tidak hanya ketika politisi yang jujur dan akuntabel, tetapi juga ketika pegawai negeri sipil yang efisien dan produktif. Sejak awal, kualitas pemerintahan telah sebagian besar tergantung pada kualitas orang yang menjalankannya. Sayangnya, reputasi pejabat publik berbicara untuk dirinya sendiri di hampir negara-negara berkembang dengan tidak terkecuali di negara-negara Asia Tenggara. Ada persepsi umum bahwa birokrasi di negara-negara yang sebagian besar masih tidak efisien dan korup. Tulisan yang mengambil kasus di empat negara Asia Tenggara ini akan mengungkapkan situasi yang sebenarnya dari kualitas dan perilaku pegawai negeri sipil di negara-negara tersebut.
Original languageIndonesian
JournalJurnal Kajian Wilayah
Publication statusPublished - 2010

Cite this