Batik Glugu: Eksklusivitas dan Upaya Menjadi Identitas Kabupaten Boyolali

Research output: Contribution to conferencePaperpeer-review

Abstract

Pengakuan UNESCO terhadap batik yang merupakan warisan dunia tak benda dari Indonesia di tahun 2009 menyebabkan berkembangnya motif batik di pelosok nusantara. Saat ini, hampir semua kota di Indonesia berlomba untuk mengeluarkan motif batik khas daerah mereka. Hal ini juga yang ingin dicapai oleh M. Amin melalui Batik Glugu. Batik Glugu yang memiliki motif khas serat pohon kelapa (glugu) dikembangkan oleh M. Amin, penduduk Dusun Godeg, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (Bhawono, 2012). M. Amin memiliki harapan Batik Glugu dapat menjadi identitas kota. Akan tetapi, proses pemasaran Batik Glugu yang bersifat satu pintu (hanya melalui Galeri Muhammad Amin) demi menjaga eksklusivitas dan persaingan harga membuat Batik Glugu seperti berjalan di tempat. Oleh sebab itu, bagaimana Batik Glugu dapat menjadi identitas Kabupaten Boyolali? Tujuan penelitian ini adalah memaparkan permasalahan mengapa Batik Glugu belum dapat dikatakan sebagai Identitas Kota Boyolali berdasarkan Teori Kearifan Lokal (Meliono, 2011) dan Teori Ekonomi Ganda (Itagaki, 1968). Metode penelitian kualitatif melalui wawancara langsung dengan M. Amin, serta Dinas Perdagangan Boyolali dan didukung oleh data kuesioner tentang posisi Batik Glugu sebagai identitas kota menunjukkan jika Batik Glugu belum dapat dikatakan sebagai identitas kota karena belum dikenal bahkan oleh masyarakat setempat di Boyolali (Ledgerwood, Liviatan, Carnevale, 2007). Sebagai simpulan, dapat dikatakan bahwa untuk membuat Batik Glugu sebagai identitas Kabupaten Boyolali, Batik Glugu perlu menjadi kearifan lokal masyarakat Boyolali. Kemudian Batik Glugu sebagai sektor modern diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan sektor tradisional yang sudah menginternalisasi di tengah masyarakata Boyolali yaitu sektor pertanian dan peternakan. Batik Glugu sebagai sektor modern juga tidak bisa bergantung pada eksklusivitas, melainkan sinergi yang baik antara produsen Batik Glugu, masyarakat Boyolali, dan Pemda untuk membuat proses produksi dan pemasaran menjadi lebih tertata dan terencana sehingga dapat dikenal dan diakui oleh masyarakat luas baik di Boyolali maupun di nusantara.
Original languageIndonesian
Publication statusPublished - 2017
EventProsiding Seminar Nasional Budaya Urban/PPKB FIB UI - ID, Depok, Indonesia
Duration: 1 Jan 2017 → …

Conference

ConferenceProsiding Seminar Nasional Budaya Urban/PPKB FIB UI
CountryIndonesia
CityDepok
Period1/01/17 → …

Keywords

  • Glugu Batik, Boyolali, Exclusivity, City Identity.

Cite this